Catetan Cinta Friendzone #5 (Danau Singkarak dan Sunset)

/
0 Comments


Danau Singkarak dan Sunset

            “APAKAH kau tidak keberatan jika ku ajak lagi ke tempat lain, Togar.??” Suaranya serak, hidungnya masih agak mampet.

          “tentu saja tidak.. akan kemana lagi kita.?” Tak bergeming, matanya menatap fokus kesepanjang jalan. Sudah sore, jalanan lebih ramai dan ia harus lebih berhati-hati dalam urusan ini.

          “ke danau..” dengan mengembangkan senyum, meski ia sadar Togar tak dapat melihat senyumnya itu. Ia tak peduli, “aku ingin melihat danau..” sambungnya lagi.

          “baiklah..” masih tak bergeiming, Togar memang serius daalam urusan mengendarai, ia tak ingin kejadian yg menimpa ayahnya 2 tahun silam terulang kembali. Ayahnya meninggal oleh kecelakaan maut ketika mengendarai sepeda motor saat mengantar adiknya ke sekolah, beruntung saja adiknya yg saat itu terluka parah masih bisa diselamatkan.

          Kini motor Matic buatan Jepang itu meluncur ke Danau Singkarak, merapat dan mencari tempat yg pemiliknya kira paling nyaman. Di kursi kayu dibawah pohon yg tak begitu besar namun rindang. Menghadap ke arah danau, arah dimana mentari akan menutup hari.

***

          “Maafkan aku Togar, aku minta maaf soal sikapku yg akhir-akhir ini.... kuharap kau mengerti..” gadis itu memulai percakapan, rambutnya melambai lembut seirama dengan hembusan angin sore yg mengoyangkan setiap daun pohon yg berdiri disepanjang pinggir danau itu.

          Harusnya aku yg minta maaf, aku salah menuduhmu yg bukan-bukan. Kukira selama ini kau hanya mempermainkanku, memanfaatkanku.. demi tuhan, aku minta maaf Luna.. dahinya berkerut, ia sadar betapa hitam hatinya kemarin. Betapa teganya ia menuduh gadis yg jelas-jelas berhati putih itu dengan tuduhan yg bukan-bukan. Keji. Yaa Tuhan,, ampuni hamba... kini perasaan itu kian menekannya, ia malu dengan dirinya, ia malu dengan Tuhan dan jelas ia malu dengan Luna jika saja gadis itu mengetahui kejadian sebenarnya.

          “aku yg harusnya minta maaf..” jawab togar, ia tak berani menatap kearah Luna. Ia tak kuasa menahan rasa bersalahnya.

          Tentu saja Luna bingung, “atas dasar apa? Bukankah aku yg salah karena telah berusaha menjauh dan memendam masalah ini tanpa memberitaahumu.??” Ia menoleh ke kanan, kearah Togar. Berusaha menemukan jawaban dari tatapan teduh milik lelaki itu.

          “tidak Luna, aku yg salah. Aku telah menuduhmu yg bukan bukan, ku kira kau akan menjauhiku karena kau telah..” dihelanya napas perhana, menoleh kearah gadis itu. Luna menatapnya dengan penuh tanya, “karena kau telah bosan denganku..” kini ia tertunduk,  yaa Tuhan.. ampuni hamba..!! ia sangat malu.

          Bulatan itu kembali berkaca, teganya kau menuduhku seperti itu.. asal kau tahu, walau bagaimanapun keadaanmu dan walau sampai kapanpun tetap hanya kau yg kuharapkan. Tak ada yg lain, Togar.. kantong matanya hampir penuh. Ah, percuma. Kini kantong itu telah penuh. Luber, menetes. Tangis tanpa isak.

          Bukankah dia sudah minta maaf..? Ah, dia telah mengakui kesalahannya. Aku tak boleh marah, dia memang tak salah. Mungkin dia rindu, tentu saja karena aku telah menjauhinya.. Luna berusaha berfikir positif, coba untuk memaafkan lelaki di sebelahnya itu.

          “maafkan aku Luna, tak seharusnya sikapku begitu..” bujuknya sekali lagi, ia mendadak lemah menyaksikan mata gadis itu telah berlinang.

          “kau tak salah. Iya, lupakan saja..” memasang senyum getir, tatapannya sayu dan masih menatap lelaki itu dengan lembut. Tak ada amarah dari tatapan itu.

          Diraihnya tangan Luna, “aku benar-benar menyesal Luna..” sekali lagi ia mengakui kesalahannya.

          Senyum khas itu masih tersemat, “iya, lupakan saja..” balasnya menggenggam erat kedua belah telapak tangan Togar.

          Kepalanya disandarkan dibahu Togar, sehelai-dua helai rambutnya melambai-lambai seirama dengan tiupan angin danau disore itu. Dengan perlahan jemari Togar menyibak rambut Luna, coba merapikannya. Semburat pendar sinar orange yg berbaur dengan warna merah itu menciptakan perpaduan warna yg indah. Jingga. Warna surga yg membuat jutaan insan jatuh hati pada -Nya, warna dari tuhan yg membuat siapapun berdecak kagum saat melihatnya. Kini sinar itu mendarat lembut di kulit wajah kedua muda-mudi yg tenggelam dalam lautan kasih itu.

          Wajah Luna berseri, bersama dengan hatinya. Indahnya garis muka itu, berseri bak wajah dari surga.. Tangan Luna mengusap garis lurus bekas air mata yg telah mengering dipipinya. Tangan itu kini meraih jemari tangan kiri Togar yg menggenggam pinggiran kursi kayu.Togar menoleh kearah pemilik tangan yg menyentuh jemrinya itu. Luna tersenyum. Berbalas senyum. Mereka menatap lurus kearah sumber cahaya nan indah itu, hanyut dan terbuai.  Hingga....

***

          “Ikan hasil tangkapan Da Bahar yg kemarin belum dibayar, pergilah kesana nak. Bawakan uang yg ada di amplop itu..” tunjuk ayah Fitria kearah meja. Gadis yg sedari tadi asik membaca novel karya ‘Buya Hamka’ itu mengangguk, menutup bukunya dan langsung berdiri.

          Apa susah baginya berjalan ke rumah yg dimaksud, rumah pak Bahar, ayah Gina. Berjarak 14 rumah dari rumahnya. Bahkan saban sore ia selalu kesana untuk bermain atau sekedar menemui Gina dan mengajaknya berjalan-jalan di pinggir danau, atau Gina sendiri yg datang menemuinya.

          “iyo ayah..” tangannya meraih amplop itu dan mencium tangan ayahnya, berpamitan untuk keluar.

          “hati-hati dijalan, jangan pulang terlampau sanjo..” nasehat ayahnya, yg dinasehati sudah berada di teras.

          “iyoo Ayaah..!!” jawab gadis itu dengan suara sedikit nyaring, menyesuaikan jaraknya dengan ayah yg berada di dalam rumah.
***
          “Assalamu’alaikum.. Assalamu’alaikum....” ulangnya sambil mengetuk pintu.

          “Wa’alaikumsalam.... Gin..!! Gina..!! ado si Fitri diluar..” setengah berteriak, ibu Gina memanggil putri bungsunya itu kemudian berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
          “iyo Mak..!!” jawab yg dipanggil dari kamarnya.

          “eh Amak, ini duit dari ayah. Katanya buat bayar ikan hasil tangkapan Apak yg kemarin..” sapa Fitria sambil menyodorkan amplop titipan ayahnya itu.

          “oh iyo nak, tarimokasih yo..” menyematkan senyum, “Gin...!!  Gina...!!” teriaknya lagi..
          “iyoo.. Amak ini apalah.. heboh nian kayak kedatangan artis saja..” cibir Gina yg ternyata sudah berdiri dibelakangnya.

          “nah ini, Fitri. Fitri adalah artis awak di Ranah ini..” menunjuk kearah Fitria, “oh iyo, Amak sedang masak. Masuk lah nak kamari” ajaknya sembari beranjak dari depan pintu.“Ehh, sudah gosong..!!” ia baru teringat dengan nasi yg ditanaknya setelah mencium bau gosong dari arah dapur.

          “tuh kan.. Amak ini..” sambil geleng-geleng dan menahan tawa melihat tingkah ibunya yg seperti anak kecil itu setengah berlari ke dapur.

          “ada-ada saja Amak ini..” masih dengan gelak geli melihat tingkah ibu-anak itu, “ayo jalan ke danau..!!” ajaknya kepada Gina.

***

          Hingga....

          “Lihatlah Gin, betapa eloknya Nagari kita ini..” tanpa kedip, matanya menyapu pandang ke arah barat, sumber cahaya itu.

          “ya, memang elok.” Mengembangkan seulas senyum. Senyum yg dibuat-buat.
          “kamu kan tahu kalau aku sangat suka senja. Kata bundo....” belum sempat dilanjutkannya kalimat itu.

          “kata bundo kamu lahir di sore hari ketika sunset..” potong Gina, ia tahu betul muara kalimat Fitria barusan.

          “hehe, bukankah itu menarik..??” masih dengan menyengirkan gigi putihnya yg tertata rapi.

          “menurutku biasa saja. Kamu tahu aku lahir saat malam bulan purnama, aku juga suka meihat cahaya bulan, tapi tak begitu berlebihan sepertimu melihat sunset..” tolaknya. Mungkin ia merasa Fitria terlalu berlebihan, atau bosan dengan percakapan yg saban sore hanya bermuara ke warna jingga itu.

          “oh iya..” Fitria teringat sesuatu, “Togar juga sangat suka bulan. Dia juga lahir saat malam bulan purnama. hehe” lanjutnya dengan tersipu. Mata bak biji lecinya berbinar-binar kala menyebut nama lelaki itu. Ya, Togar memang sangat suka dengan cahaya bulan.

          “Eh.. Togar..!!!” setengah kaget, Gina hampir tak percaya dengan yg ia lihat barusan.

          “iya, Togar sangat suka bulan..” ulang Fitria, masih tersipu.

          “bukan..!! itu.. itu Togar..!!” jelasnya. Tangan Gina menunjuk kearah sebuah pohon kecil yg dibawahnya ada kursi kayu panjang.

          “dimana Togar..??” tanya Fitria sedikit bingung.

          “itu..!! bukankah itu Mr.T mu.??” Perjelasnya sambil menunjuk kearah yg sama. Fitria mengikuti arah telunjuknya.

          Ya, itu memang kak Togar.. Motor matic berwarna pink dengan plat nomor   ‘BA5187NF’ itu terparkir disebelah dua orang yg tengah duduk sambil menunjuk kearah danau. Tak salah lagi, Fitria kenal betul dengan motor Mr.Tnya itu.

          Beruntung sekali kak Luna..  ia melihat kepala gadis itu bersandar manja di bahu Togar, sesekali terlihat tangan keduanya bersigenggam. Mesranya.. desah Fitria. Sesak. Dadanya kian menyesak. Sesuatu seperti  menghujam kedalam jantungnya. Hujaman yg keras, menyisakan nganga luka dalam. Kini ia tersedan, menahan agar bola matanya tak berlinang.

          Apa boleh buat, siapa yg kuasa mengendalikan hati. Mata hitam bak biji Leci itu kini telah berlinang, tumpah ruah membasahi pipinya. Matanya mulai berkabut, gelap sudah. Hatinya gelap, pekat seperti kepulan asap bakaran karet. Panas. Itulah cemburu, ‘rasa’ yg bisa menggelapkan segalanya. Rasa yg bisa membakar segalanya.

          Selangkah-dua langkah, perlahan kakinya melangkah mundur. Masih tergugu. Kakinya tersandung batu sebesar buah kelapa dan akhirnya terjatuh. Sikutnya menghantam aspal untuk menahan agar kepalanya tidak terbentur. Permukaan aspal yg kasar bak parutan itu telah berhasil memarut daging yg dibungkus oleh kulit tipisnya dan dari pori-pori keluar tetesan darah segar.

          “Fitria..!!” Gina berteriak. Ia menghampiri Fitria yg terjatuh di pinggir jalan aspal itu. Suara Gina yg lumayan nyaring ternyata telah menarik perhatian sekitarnya. Tentu saja teriakan itu juga terdengar jelas oleh Togar dan Luna yg hanya berjarak 12 meter darinya, sontak keduanya menoleh kearah sumber suara.

          “Awaass Fitriaa..!!” dengan berteriak Togar berdiri melepaskan genggaman tangan Luna dan langsung melompat menghambur kearah gadis yg masih berada di pinggir jalan itu. Togar agak oleng, hampir terjatuh karena menginjak sebuah batu di pinggir danau yg sebesar kepal orang dewasa. Berusaha menyeimbangkan tubuh dan menarik lengan Fitria hingga tersentak dari ujung aspal itu. Sentakan yg keras. Tentu saja sentakan itu mengagetkan Fitria dan membuat tangan lemah gemulainya yg biasa bermanja itu terseleo.

          Triiiitt..!!! triiiittt..!!! triiiiiiittttttt....!!! suara klakson mobil tronton tua, agak serak.Mobil tronton itu melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara. Wuussss.... terpaan angin dari mobil tua itu mengibaskan rambutnya sehingga menjadi berantakan. Tangannya berdebu dan cairan berwarna merah mengalir dari sikut serta punggung tangan sebelah kirinya. Berdarah..

          Fitria berusaha bangkit dan menjauh dari tempat yg nyaris merenggut nyawanya itu dengan terseok. Matanya masih berlinang, berlinang menahan perih. Perih yg dimaksud bukan lah berasal dari goresaan luka di sikut atau punggung lengannya yg lecet terparut aspal, perih yg dirasakannya itu jauh lebih ‘perih’.

          Gina bersitatap dengan Togar, pria itu masih bingung. Kemudian ia beranjak dan mengejar Fitria dari belakang, tak susah baginya mengejar gadis manja yg berusaha berlari cepat itu. “fitri.. Fitria..!!” ditariknya tangan Fitria dan memeluknya. Kini air mata itu tumpah sudah di pundaknya, isak itu dilepaskannya bersama airmata. “ayo kita pulang..” ucap Gina sembari merenggangkan pelukan gadis itu, dibenarkannya rambut gadis manja yg berantakan itu.

          Togar diam mematung, masih tak mengerti apa yg terjadi. Luna yg sedari tadi menyaksikan juga ikut bingung, sebenarnya apa yg terjadi..??

***

          “Aw..!! uh...” desah Fitria saat kain basah yg direndam dengan air hangat itu diusapkan oleh ibunya Gina dengan lembut dan teliti ke area kulit yg lecet dan berdebu.

          “amak, pelan-pelan.. kasihan Fitria..” protes Gina yg sedari tadi tanpa kedip menyaksikan tangan ibunya membersihkan luka gadis manja itu. Tak bergeming, amak menghiraukan perkataan putrinya barusan.

          “tinggal sedikit lagi nak, habis ini kamu mandi ya. amak sudah siapkan air hangat untuk pemandianmu..” matanya tetap fokus terhadap kulit Fitria yg lecet itu, sedang tangannya masih asik dengan lembutnya mengusap-usap darah kering yg menempel bersama debu di kulit Fitria. “sudah..” ucapnya dengan mengembangkan senyum khas yg tulus.

          “ayo mandi tuan putri..” goda Gina kepada sahabatnya itu dengan membimbing Fitria untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

***

          “Pilih lah baju mana yg kamu suka..” dengan membuka lemari pakaian dan menunjukkannya kepada Fitria yg duduk di pinggiran ranjang.

          “terserah lah Gin, yg mana saja..” Fitria berusaha mengembangkan senyum, agak sulit memang namun senyum itu tetap tersemat walau tak persis seperti senyumnya yg khas.

          “oh iya, aku juga punya baju dengan motif berwarna Orange, sebentar ya..” ia mencari di setiap bilik lemari, berusaha menemukan dress yg dimaksud. “nah.. ini..!!” dengan mengembangkan senyum puas, “kamu pasti suka..!!” ia tahu betul bahwa Fitria sangat suka warna itu, juga perpaduan antara warna Orange dan Merah. Jingga, warna ‘senja’.

          “iya, yg itu saja. cantik nian..” benar saja ia sangat suka dengan dress putih dengan sedikit kombinasi dan motif berwarna Orange pilihan Gina. Ah, Gina memang sahabat yg baik..

          “ini hadiah dari Uda Isal saat ulangtahunku kemarin. Dia pandai memilih, ukurannya sangat pas denganku..” jelasnya sambil berjalan menuju Fitria dan memberikan dress itu.

          Fitria yg tubuhnya masih terbungkus handuk langsung berdiri dan menerima dress itu, “beneran tak apa-apa kan.? Oh iya, besok akan kukembalikan setelah di cuci..” dan dengan hati-hati ia mengenakan dress tersebut dibantu oleh Gina. Agak longgar memang, soalnya tubuh Gina sedikit lebih berisi dari tubuhnya. Ah, tak masalah, yg terpenting ia suka.

          “ya, tak masalah.. tapi kegedean, hehe..” ia sebenarnya malu, tentu saja karena tubuhnya sedikit lebih berisi dari Fitria. Hanya sedikit, tidak begitu jelas jika dilihat sekilas. “setelah makan nanti kamu ku antar pulang ya..” sambungnya.

          “iya, tapi.. a-yah..” ya, ayah pasti marah. Ayah pasti murka melihat putri satu-satunya, putri yg dimanja-manja, putri yg segala permintaannya selalu dipenuhinya, putri yg dibesarkannya dengan cinta dan putri yg menjadi pewaris tunggal hartanya ‘terluka’.

          “tak apa, nanti biar kubantu menjelaskannya..” dengan menyematkan senyum khas, mencoba menenangkan hati sahabatnya itu. “ayo makan..” ajaknya sembari membimbing Fitria berdiri (padahal tanpa dibantu pun gadis itu bisa berdiri dengan sendirinya, inilah salah satu bentuk perhatian tulus yg sesungguhnya) dan berjalan ke dapur.



***

Sebelumya >> Catetan Cinta Friendzone #4
Selanjutya >>  Catetan Cinta Friendzone #6



You may also like

Tidak ada komentar:

POSTINGAN MENARIK LAINNYA

EDY SUTERA JAYA. Diberdayakan oleh Blogger.