Catetan Cinta Friendzone #4 (Ruang ICU, Saksi Bisu)

/
0 Comments


Ruangan ICU, Saksi Bisu

            SETELAH latihan, mereka meninggalkan lapangan basket kebanggaan sekolah itu. Biasanya mereka akan berkumpul di kantin sekolah dan mencari sesuatu yg dapat menyegarkan tenggorokan atau pengisi perut yg mulai keroncongan.

          “Ayo ke kantin..” ajak Fendri kepada kapten timnya itu.

          “kalian duluan saja..” jawabnya tanpa menoleh, tangannya tengah sibuk membuka sepatu.

          “oh, oke. Kami duluan..” mereka berlalu menuju kantin yg terletak tak jauh dari lapangan basket sekolah. Zudin diam saja, seolah tak mendengar perkataan teman setimnya barusan.

          Ada yg aneh dengan lelaki ini, tidak seperti biasa,, ah, mungkin dia sedang memiliki masalah.. gumam Fendri sambil berlalu.

          Zudin berdiri dan keluar dari lapangan berjalan menuju taman, ia ingin istirahat, fikirannya sedang penat. Entah apa sebabnya dia sendiri-pun tak tahu, yg pasti ia sedang tidak enak fikiran.

          Taman sekolah itu lumayan luas. Banyak pohon Kalpataru yg dibawahnya terdapat kursi panjang tempat para siswa-siswi beristirahat melepaskan penat fikiran yg seharian harus menerima pelajaran yg menguras energi, atau tempat untuk sekedar berkumpul dan diskusi bersama.

          Tak salah sekolah ini mendapat penghargaan sebagai sekolah ter-asri dari mentri pendidikan. Di ibu kota mana ada sekolah dengan hawa sejuk alami seperti ini, bukankah kesejukan yg mereka rasakan murni berasal dari mesin pendingin.. (maksudnya air-conditioner/AC) gumamnya dalam hati. Tangannya merogoh kantong tas berusaha mencari sesuatu. Setelah dirasanya ketemu, dinyalakannya benda berbentuk kotak kecil berwarna putih itu (maksudnya ipod) dan menempelkan earphone ke telinganya. Kini ia mendengarkan lagu Sugar dari Maroon5.

I’m hurtin’ baby, I’m broken down..
I need your lovin’, lovin’ I need it now..
When I’m without ya, I’m something weak..
You got me beggin’, beggin’ I’m on my knees..
I don’t wanna be needin’ your love,
I just wanna be deep in your love,
And it’s killing me when you’re away..
Ooh baby..
‘ Cause I really don’t care where you are,
I just wanna be there where you are,
And I gotta get one little taste..
You sugar, yes please,
Won’t you come and put it down on me..
I’m right here, ‘cause I need,
Little love a little sympathy..
Yeah you show me good lovin’, make it alright..
Need a little sweetness in my live..
You sugar, yes please,
Won’t you come and put it down on me..


          Dihelanya napas perlahan dan dihembuskannya dengan perlahan pula, berusaha tetap tenang. Matanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari kursi kosong. Eh, bukankah itu..??  ia meragukan pangelihatannya, dilihatnya sekali lagi untuk memastikan. Ya, itu memang dia..

          Ah, biarkan saja. Mungkin dia masih marah.. Perasaannya masih sungkan. Lain kali saja, mungkin sekarang dia masih marah.. ia berjalan menyeberangi taman tanpa menoleh agar tidak menarik perhatian gadis itu.

***

          “Eh, bukankah yg barusan itu Zudin?” ucap Keke kepada Luna, mereka sedang duduk di kursi panjang taman sekolah.

          “ya, kurasa memang dia. Kenapa?” sebenarnya dia tahu maksud dari pertanyaan saudara sepupunya barusan.

          “em, tidak” ia menoleh kearah Luna, “biasanya dia selalu menyapamu” sambungnya lagi.

          “hm.. iya sih..” sesuatu melintasi fikirannya, kini dadanya berubah menjadi sesak, keping penyesalan di dalam dadanya telah tumbuh kembali. Mengakar. Mungkin dia kecewa kepadaku. Ah, tak sepantasnya sikapku begitu..

          “kalian bertengkar.?” sebenarnya Keke tak yakin untuk menanyakan hal itu, namun rasa penasarannya bertindak lain.

          “tentu saja tidak..” ya, mereka memang tidak bertengkar, hanya saja.. ah, entah apalah itu namanya, yg pasti mereka sedang tidak baikan.

          “hm..” telunjuk Keke mengetuk-ngetuk dagu seolah mencari kata yg cocok untuk dilontarkan selanjutnya. Seolah detektif, ia selalu ingin tahu tentang semuanya.

          “ayo ke kelas, sebentar lagi bel akan berbunyi..” Luna tahu benar sepupunya yg satu ini tak akan berhenti mengoceh, itulah sebabnya ia berusaha mengalihkan. Setidaknya agar gadis itu berhenti bertanya tentang Zudin atau tentang apapun itu.

***

          Suara bel berdentang memecah kesunyian sore itu, sorak-sorai mulai terdengar bersamaan dengan bunyi gaduh. Ya, ini sudah jam 16:04 sore, saatnya para siswa-siswi meninggalkan sekolah dan pulang kerumah masing-masing.

          Pintu gerbang itu mendadak ramai dilalui oleh para siswa-siswi pejalan kaki, mereka berjejer di halte sambil menunggu bus atau angkot atau jemputan atau apalah itu yg bisa mengantarkan mereka kerumah dan meninggalkan sekolah itu. Deru knalpot sepeda motor pun mulai terdengar disana-sini. Ah, sungguh momen yg ditunggu-tunggu, pulang kerumah dan beristirahat. Beristirahat? Tentu saja tidak semua diantara mereka benar-benar beristirahat. Ada yg sepulang sekolah langsung ke danau menangkap ikan atau memberi pakan kepada ikan yg ada di dalam kerambah, ke ladang memanen sayur, mengembalakan sapi atau kambing dan itik, ke sawah, atau kemanapun itu sebagai pengisi agenda rutin di sore hari.

          “Eh, itu dia..” gumam Luna ketika melihat Togar di sudut parkiran, lelaki itu tengah mengenakan sweater nya. Seorang gadis yg tak dikenalinya mendekat kearah Togar. Siapa gadis itu..??

***

          “hai kak Togar, selamat sore..!!” suara itu,sepertinya pernah didengarnya. Tapi dimana?

          “eh, haii..” tentu saja pernah, bahkan sering didengarnya. Lewat telepon. “selamat sore juga dik Fitria..” jawabnya sambil menyunggingkan senyum yg khas. Ini kali pertama mereka bersitatap secara langsung. Manis juga..!!

          “kakak kok pulang duluan, bukannya sore ini ada latihan Pramuka??” ia tahu bahwa Togar adalah anggota pramuka dan merupakan senior yg membina anak-anak baru atau juniornya. Dia juga tahu bahwa Togar merupakan anggota OSIS, juga tahu kalau Togar suka membaca dan masih banyak lagi. Gadis ini banyak tahu karena terlalu sering memperhatikannya.

          “ah, tidak.. hari ini aku ada janji dengan seseorang..” jawabnya sambil mengangkat lengan dan melihat kearah arloji made-in Swiss miliknya. “kamu kok belum pulang..??”

          “lagi nunggu unchu  Ramli kak..” matanya menoleh kearah gerbang. “nah, itu Unchu. Fitri duluan ya kak..” gadis itu berlalu sembari melambaikan tangan dan melemparkan seulas senyum, memang manis senyum gadis molek itu. Senyum yg menyematkan  lesung di atas pipi yg sedikit tembem. Menggemaskan.

          “ya, hati-hati dik..” jawabnya sambil menoleh kearah Fitria, gadis itu semakin jauh. Kini Fitria sudah diseberang jalan, didepan pintu gerbang. Matanya menoleh ke kanan dan kiri, menyempatkan sesaat untuk melemparkan senyum yg sama, tentu saja untuk Mr.Tnya itu.

***

          Siapa gadis itu..?? gumam Luna yg sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Kini ia berjalan menghampiri Togar, menarik napas panjang dan mengumpulkan tenaga, “HEEEEYYYY....!!!!” pekiknya dari belakang. Gadis itu tahu betul bahwa Togar sangat mudah terkejut,  entah kenapa ia senang sekali melakukan hal itu meskipun tahu bahwa Togar tidak pernah suka.

          “Ehh..!!!!” Togar tersentak ke belakang dan hampir merobohkan motor yg lain. Matanya terbelalak.

          Wajah itulah yg sangat disukai Luna, ia sangat senang melihat ekspresi bingung campur kaget campur takut campur cemas dan campuraduk dari Togar. Tentu saja ekspresi itu membuatnya tertawa geli, kini tawanya meledak dan meninggi menjadi bahak. Tak peduli dengan orang lain yg berlalu-lalang disekitarnya, Luna memang suka tertawa lepas seperti itu.

          “sudah kubilang jangan suka bengong..” masih terkekeh, namun kali ini agak terkontrol.

          Dipandanginya Luna lekat-lekat, sudah lama ia tidak mendengar ledakan tawa seperti itu. Tentu saja karena akhir-akhir ini mereka jarang berjumpa, jarang berbicara dan karena Luna telah ‘berubah’. Togar tersenyum.

          “eh, kenapa senyam-senyum.?? Astagaaa jangan-jangan,,, kamu kesambet..!!” godanya sekali lagi, dia memang suka menggoda Togar seperti itu. Padahal entah kapan ia melihat lelaki itu kesambet. Ah, gadis itu memang suka mengada-ada.

          Aku memang kesambet, hati dan fikiranku tak terkendali jika berada didekatmu. Perasaan yg sama juga muncul saat kau jauh dariku. Andaikan kau tahu itu Luna.. desahnya dalam hati. Ya, andaikan gadis itu tahu.. eh, bukannya Luna sudah tahu?

          “eh eh eh.. malah bengong..!!” seru gadis itu membuyarkan lamunannya. Ah, lagi-lagi Togar melamun.

          “eh, iya. Ayo.!!”sekali lagi ia kaget, kali ini terkendali. Tangannya meraih helm yg tergantung di kaca spion sebelah kiri, diberikannya helm berwarna putih polos itu kepada Luna.

          Ayo..?? kemana..?? ah, tentu saja ke.... bibir Luna melebar, tersenyum.

***

          “sebenarnya kitaakan kemana?” Togar mulai bingung, dari tadi Luna hanya diam. Biasanya gadis itu paling berisik, paling usil mengomentari wanita yg memeluk erat pinggang pacar atau suaminya diatas sepeda motor, seolah sepeda motor itu akan terbang ke langit. Biasanya ia sibuk mengomentari cara berpakaian muda-mudi yg berpapasan dengannya, memaki panas terik serta debu jalanan, membicarakan hal yg tak begitu penting, serta menggoda Togar yg sok serius dengan stang motornya.

          “Luna..!!” sambil membenturkan kepalanya yg dibungkus helm ke kepala Luna yg juga dibungkus oleh helm berwarna putih itu. Benturan itu tentu saja untuk menyadarkan Luna yg tak mendengarkan pertanyaannya barusan.

          “eh, iya..” buyar sudah lamunannya.

          Togar menarik napas perlahan dan melepaskannya perlahan pula, berusaha tetap tenang. “Kita akan kemana..??” ulangnya sekali lagi. Oke, kali ini ia tidak akan ambil pusing atas Luna yg tak mendengarkan pertanyaannya sebelumnya. Sebenarnya kita akan kemana?

          “ke rumahsakit..” agak pelan dan datar.

          “kemana.??” Ulangnya. Bukannya Togar tak yakin dengan yg barusan gadis itu katakan, tapi ia benar-benar tidak dengar dengan jelas.

          “ke rumah sakit..” sekali lagi, kali ini intonasinya agak jelas. Togar mengangguk.
          Ngapain ke rumah sakit.?? Siapa yg sakit.?? Apakah kau sedang sakit Luna.?? Kenapa harus ke rumahsakit.??Pertanyaan semacam itu muncul dibenaknya, tapi tidak untuk kali ini. Dia tidak akan bertanya kenapa gadis itu mengajaknya ke rumah sakit. Ikuti saja..

***

          Langkah kakinya semakin dipercepat, kepalanya tertunduk berjalan terbatah kearah ruangan ICU rumahsakit itu. Tangan kanannya merogoh saku sebelah kanan suiter biru dengan sablon karakter Doraemon, menemukan saputangan yg dicari. Menyeka matanya yg mulai basah. Basah oleh kepedihan, basah oleh kepiluan.

Wahai Maha Pencipta, kenapa kau ciptakan benda yg satu ini, bukankah dengan linangnya semua menjadi lemah? Sekalipun seorang pejabat, pegulat, konglomerat, atau siapapun itu pasti akan terkulai lemah jika benda bulat itu berlinang?

Kenapa kau ciptakan benda itu dekat sekali dengan otak, bukankah otak selalu menyimpan jutaan tragedi dalam memori yg sewaktu-waktu akan muncul di ruang bulatan bening itu? Bukankah tragedi pilu dalam memori akan memperderas tetesan cairan bening itu? Hingga telaga itu tak dapat lagi menampungnya, hingga kepedihan itu tumpah?

Wahai maha Pencipta, kenapa kau ciptakan rasa itu? Rasa yg menyebabkan bulatan bening itu berlinang.. Rasa perih..’

          Togar mengikutinya dari belakang. Sejuta pertanyaan kembali bermunculan di kepalanya, pertanyaan yg bahkan ia sendiri pun tak mengerti. Dari sekianbanyak pertanyaan yg memenuhi benaknya, hanya satu pertanyaan yg mampu menggerakkan bibirnya untuk bergumam “apa yg terjadi.??” Dan pertanyaan itu terlontar begitu saja, entah untuk siapa dan entah untuk apa.

***

          Lihatlah gadis itu tergugu dengan isak, kini bulatan itu telah banjir. Tak terkendali. Isaknya amat kuat, saking kuatnya mampu menaik-turunkan bahu dan menyentak-nyentakkan badannya yg bertopang di ranjang tempat lelaki yg dipanggilnya Ayah itu terbaring tak berdaya.

          Terbaring tak berdaya..

          Sejak kejadian 3 bulan lalu, suara tawa yg khas tak pernah terdengar lagi. Badannya yg tinggi besar dengan perawakan yg gagah tak lagi mampu berdiri dengan kokoh, sorotan nanarkhas matanya yg tajam tak lagi pernah terlihat. Kini tubuh perkasa itu telah terbaring, seolah singa yg tengah terlelap. Terbaring tak berdaya..

          Isak gadis itu menghujam keras ke dalam hati Togar, isak itu seolah dapat dirasakannya. Lihatlah betapa rapuh gadis itu. Togar dapat merasakannya. Dari matanya, ia bisa menerawang apa yg dirasakan oleh gadis malang itu. Meskipun tak persis, ia juga tahu betapa pilu menghadapi kenyataan, rasa pilu yg memaksa diri menerima kenyataan yg walau tak diinginkan.

          Bagaimana tidak, ia juga pernah merasakan hal yg sama, bahkan lebih getir. Ia telah merasakan yg namanya kehilangan, kehilangan orang yg sampai kini masih meninggalkan jejak ‘rindu’ dirumahnya. Kehilangan seseorang yg sampai kini masih melukiskan kesepian di ruang hati ibunya. ‘Kehilangan’ yg merubah status mereka bersaudara menjadi anak YATIM.

***

          Langkahnya terhuyung, matanya menatap lurus kearah gadis itu. Satu langkah, dua langkah, setiap langkah kaki tak menggemingkan tatapannya kepada Luna. Lututnya lemas, kini ia membungkuk mendapati tubuh Luna yg pundaknya masih naik-turun karena isak. Diraihnya perlahan lengan gadis yg tertopang di ranjang itu hingga berbalik kearahnya dan kemudian memeluknya dengan erat.

          Mereka bersatu, rasa itu kini telah padu. Suara isak dan tetesan airmata yg membasahi pundaknya seolah berbicara banyak, bercerita kepadanya tentang semua yg dirasakan oleh gadis itu.

          Rasa itu telah padu, kini kesedihan itu tergambar jelas di benaknya. Ia juga rasa apa yg dirasakan oleh gadis itu.

          Pelukan itu semakin erat, jelas ini pelukan tulus, pelukan sayang, pelukan iba, pelukan haru. Togar tak pernah sedikitpun berfikiran untuk mengambil kesempatan dalam situasi itu, semua murni tulus.

‘Apakah yg mereka lakukan itu dosa ya Tuhan, apakah itu zina? Kau tahu tak ada rasa yg muncul selain haru saat mereka melakukannya, semua itu bukan atas dasar nafsu.
Apakah mereka berdosa ya Rab? Hanya kau yg tahu rahasia langit dan bumi, hanya kau yg paham atas segala perhitungan didalamnya. Maafkan kami yg bodoh ini, ampuni kami yg berilmu dangkal ini, yg masih awam tentang urusan pemahaman agama.. ampuni kami..’

          Kesedihan itu kini tumpah ruah bersama air mata Luna. Tak ada yg ditahan, tak ada yg disembunyikan dan tak ada yg tersisa. Ia percaya dengan pemilik pundak itu, dicurahkannya semua. Tak tersisa.

          Togar hanya diam tak bergeming, matanya seolah terkena percikan air asam. Getir. Perih, mengundang linang. Ditahannya perih itu, ia tak boleh menangis, ia tak boleh terlihat lemah dihadapan gadis itu. Tak boleh menangis..

          Tanpa isak cairan bening memenuhi kantong matanya, tanpa isak cairan itu luber menetes ke lantai, perlahan tapi pasti.Tanpa isak mata itu kini telah basah. Kini tangannya membalas pelukan gadis itu. Semakin erat. Semakin padu, ruangan itu seolah menjadi ‘saksi bisu’ atas padu perasaan dua insan yg sedang luluh di dalamnya.





***



You may also like

Tidak ada komentar:

POSTINGAN MENARIK LAINNYA

EDY SUTERA JAYA. Diberdayakan oleh Blogger.